"Dan barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah, maka Allah akan membuat untuknya jalan keluar - dari segala macam kesulitan - dan memberinya rezeki dari jalan yang tidak dikira-kirakan."

Jumat, 08 Januari 2016

Teknik Pengambilan Sampel

Selamat pagi teman-teman ....
Selanjutnya saya ingin membagi ilmu tentang teknik pengambilan Air Sumur yang digunakan untuk pemeriksaan bakteriologis.
      Air berasal dari sumber air permukaan, air tanah , maupun air angkasa . Air angkasa bersifat jernih karena tidak tercemar polutan tetapi sifat air yang bersifat asam sehingga perlu diturunkan agar memenuhi syarat air bersih yang bersifat netral. Air permukaan berasal dari danau, sungai maupun rawa-rawa . Air ini mempunyai banyak polutan sehingga banyak parameter yang memenuhi baku mutu sehingga kalau ingin menggunakannya harus dilakukan pengolahan terlebih dahulu. Air tanah merupakan air yang berasal dari dalam tanah . Air tanah bisa berupa air sumur gali maupun bor. Air tanah mengandung bahan mineral yang berlebih sehingga harus diturunkan agar memenuhi syarat baku mutu.
     Sebelum membahas lebih jauh , disini saya akan membahas tentang pengambilan sampel untuk air sumur gali. Sebelum dilakukan pemeriksaan , harus dilakukan pengambilan sampel yang memenuhi syarat. Prinsip pengambilan sampel yaitu :
  1. Menentukan lokasi pengambilan sampel
  2. Menentukan titik pengambilan sampel
  3. Melakukan pengambilan sampel
  4. Melakukan pengawetan sampel
  5. Pengepakan sampel dan pengiriman ke laboratorium.
      Dalam pengambilan sampel perlu dilakukan beberapa teknik . Pengambilan sampel untuk uji kimia maupun bakteiologis berbeda prinsip.
  1. Untuk uji Bakterilogis, sebelum pengambilan sampel botol sampel yang akan digunakan harus steril terlebih dahulu. Pada pengisisan sampel , botol diisi sebanyak 2/3 dari volume botol.
  2. Untuk uji Kimia, botol yang digunakan menggunakan dirigen. Pengisisan sampel harus penuh agar tidak menyebabkan aerasi pada air sampel
Berikut ini merupakan contoh pengambilan sampel .
  1. pengambian sampel Air sumur gali untuk pemeriksaan Bakteriologis


     2. Pengambilan sampel untuk pemeriksaan kimia

  

Demikian sedikit yang bisa saya bagikan , tunggu ilmu selanjutnya teman-teman ...

Kamis, 07 Januari 2016

Penggunaan mist blower SR 430 Diamond 2011-09-03


Assalamu'alaikum teman-teman ...  
Pada kesempatan ini saya ingin membagikan sedikit ilmu mengenai mist blower .
Apa itu mist blower ???
Sprayer Mist blower atau diartikan sebagai mesin penghembus adalah salah satu sprayer tipe gendong (knapsack sprayer), contohnya Mist Blower SR 430 Diamond 2011-09-03. Dimana mist blower ini terdapat tiga bagian pokok yakni bagian tagki (reservoir), pompa, dan pengabut. Tangki terbuat dari bahan komponen logam dari perunggu plat baja atau bahan sintesis (plastic) berbentuk bulat panjang dan bulat pipih. Pompa, merupakan komponen yang repenting dari penyemprot gendong. Jenis pompa ini yang paling umum ialah tipe pompa udara dan tipe pompa hisap tekan. Dan bagian pengabut (unit selang dan perlengkapan nozzle).

Mist blower ini selain untuk penghembus/pengabut, juga bisa dipakai sebagai penyebar butiran dan lain-lain yang konstruksinya dipakai dengan kombinasi. Pada mesin pengabut terdapat bagian-bagian pokok yang antara lain terdiri dari Unit tangki, Unit penghembus, dan Unit motor penggerak.
Bagian-bagian mist duster/mist blower berdasarkan sistem/prinsip kerjanya, yaitu pengabut bermotor dibagi menjadi:
a. Penyabut bermotor dengan menggunakan perlengkapan pompa (mist pompa) agitasi mekanis.
b. Penyabut tak bermotor dengan sistem tekanan udara (air fissure) agitasi udara

Mist Blower ini terdiri dari mesin kabut yang menghembuskan cairan seperti pestisida menjadi butir-butir kecil (droplet) oleh bantuan tenaga angin yang kuat dari blower, maka dapat dikatakan bahwa mesin itu adalah mesin penyemprot dengan sistem tekanan angin. Karena itu dapat menghembuskan cairan yang lebih sedikit dan lebih efektif, maka dapat menghemat tenaga kerja dan efesiensi pemberantasan hama yang lebih besar.
 Berikut ini cara mengoperasikan mist blower :

Demikian yang bisa saya sampaikan , terimakasih ..
Semoga bermanfaat .
Wassalamu'alaikum ..

Rabu, 06 Januari 2016

Pembuatan PPT pada presentasi KTI

        Karya Tulis Ilmiah adalah laporan tertulis dan diterbitkan yang memaparkan hasil penelitian atau pengkajian yang telah dilakukan oleh seseorang atau sebuah tim dengan memnuhi kaidah dan etika keilmuan yang mengkukuhkan dan ditaati oleh masyarakat keilmuan.
      Di perguruan  tinggi, khususnya jenjang S1, mahasiswa dilatih untuk menghasilkan karya ilmiah seperti makalah, laporan praktikum, dan skripsi (tugas akhir), sedangkan pada jenjang D3 KTI (Karya Tulis Ilmiah).Penyusunan lapporan praktikum ini ditugaskan kepada mahasiswa sebagai wahana untuk mengembangkan kemampuan menyusun laporan penelitan.
     Setelah pembuatan KTI , mahasiswa mempresentasikan hasilnya kepada tim penguji , pembimbing serta mahasiswa yang sukarela. Dalam presentasi menggunakan Microsoft Power Point . Pada penyusunan presentasi hasil KTI dengan Ms. Power Point , terdapat beberapa ketentuan yang dapat membuat hasil ppt lebih baik . Ketentuan tersebut antara lain.
  1. Membuat powerpoint sesuai dengan aturan.
  2. Ukuran huruf (28), jenis huruf Arial atau yang mudah dibaca.
  3. Pemakaian animasi disesuaikan dengan tema. Animasi digunakan supaya tidak berlebihan yang akan mengganggu perhatian audience.
  4. Dihindari animasi bergerak, jikalau diperlukan animasi bergerak digunakan untuk penyuluhan atau animeso.
  5. Setiap tampilan pada layar tidak lebih dari 8 baris.
  6. Sebaiknya sederhana dan tidak terlalu ramai, hindari pemakaian warna-warna yang mencolok.
  7. Warna antara huruf dan latar belakang sebaiknya kontras.
  8. Jumlah tampilan powerpoint tidak melebihi 25 tampilan dan disesuaikan dengan waktu yang disampaikan (15-20 menit).
  9. Pada BAB I  PENDAHULUAN , latar belakang berisi tentang awal permunculan masalah sampai penyelesaian , lebih bagus dalam bentuk bagan)
  10. Pada BAB II TINJAUAN PUSTAKA , hanya berisi judul-judul penting saja sedangkan penjelasannya bisa disampaikan secara lisan.
  11. Pada BAB III METODE PENELITIAN , berisi tentang metode yang digunakan dalam penelitian . Isi dalam metode penelitian lebih banyak dari BAB I dan II.
  12. Pada BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN, lebih baik ditampilkan dalam tabel, grafik maupun gambar , sedangkan penjelasan nya disampaikan secara lisan.
  13. Pada BAB V KESIMPULAN DAN SARAN , kesimpulan dan saran ditampilan pada slide yang berbeda , tetapi jika kesimpulan yang ada hanya sedikit , saran dapat dimasukkan dalam slide kesimpulaan juga.
Berikut contoh powerpoint pada presentasi KTI .

Minggu, 03 Januari 2016

Laporan Praktikum Kolonisasi



LAPORAN PRAKTIKUM
KOLONISASI NYAMUK

Dosen mata kuliah : Drs. Adib Suyanto, M.Si           Disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Pengendalian Vektor dan Binatang Pengganggu






  Penyusun :
1. Ardhian Dwi P.U            (P07133114045)
2. Dani Novita Putri           (P07133114052)
3. Ika Wulandari                 (P07133114061)
4. Muryanti                         (P07133114066)
5. Nahya Turofi’ah             (P07133114067)
6. Nur ‘Aeni                        (P07133114068)
7. Nur Azizah                      (P07133114069)
8. Rarasati Faturrahman      (P07133114073)
9. Ria Asrini Nurjanah        (P07133114075)
10. Tri Purna Anggraini      (P07133114080)

KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES YOGYAKARTA
JURUSAN D III KESEHATAN LINGKUNGAN
2015




BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
     Di era yang modern ini masih saja banyak masalah kesehatan yang di timbulkan oleh serangga, salah satunya adalah masalah yang di timbulkan oleh nyamuk. Nyamuk merupakan salah satu vektor penyakit yang dapat dikatakan berbahaya dikarenakan ada jenis nyamuk yang dapat menyebabkan penyakit yang berdampak. kematian pada manusia.
   Nyamuk dapat berkembangbiak di tempat-tempat air yang tergenang. Beda tempat perkembangbiakannya beda pula jenis nyamuk yang ada. Nyamuk mengalami metamorphosis sempurna dalam perkembangbiakannya.
    Telah banyak penyakit-penyakit yang ditemukan pada manusia yang disebabkan  oleh nyamuk, beberapa diantaranya adalah demam berdarah, malaria dan filarial. Bahkan telah mewabah pada saat musim hujan dan sangat mengganggu kesehatan manusia sendiri.
     Maka dari itu kita perlu untuk mengetahui bagaimana perkembangan nyamuk mulai dari (telur-larva-pupa-dewasa) serta mengetahui berapa lama masa metamorfosis pada tiap-tiap tahap perkembangan nyamuk agar kita dapat mngetahui lebih dini cara pengendaliannya. 
      Nyamuk termasuk jenis serangga yang masuk pada kelas Hexapoda orde Diptera. Pada umumnya nyamuk mengalami 4 tahap dalam siklus hidupnya (metamorfosis) yaitu telur, larva, pupa, dewasa. Nyamuk Aedes aegypti mengalami metamorfosis sempurna yaitu telur-larva-pupa-dewasa.
      Stadium telur, larva dan pupa hidup di dalam air, sedangkan stadium dewasa hidup diluar air. Pada umunya telur akan menetas dalam 1-2 hari setelah terendam dalam air. Stadium jentik biasanya berlangsung antara 5-15 hari, dalam keadaan normal berlangsung 9-10 hari. Stadium berikutnya adalah stadium pupa yang berlangsung 2 hari, kemudian menjadi nyamuk dewasa dan siklus tersebut akan berlangsung kembali. Dalam kondisi yang optimal, perkembangan dari staadium telur sampai menjadi nyamuk dewasa memerlukan waktu sedikitnya 9 hari. Induk nyamuk  biasanya meletakkan telur nyamuk pada tempat yang berair dan tidak mengalir. Pada tempat yang kering, telur nyamuk akan rusak dan mati. Kebiasaan meletakkan telur dari nyamuk berbeda0beda tergantung dari jenisnya.


B. Tujuan
1. Mengetahui metamorfosis nyamuk.
2. Mengetahui periode waktu pada tiap tahap perkembangan nyamuk.

C.  Manfaat
1. Mahasiswa mampu melakukan kolonisasai nyamuk.
2. Menambah pengetahuan mahasiswa tentang metamorphosis nyamuk.
3. Menambah pengetahuan mahasiswa tentang tahap perkembangan nyamuk.


BAB II
METODELOGI PENELITIAN
A. Alat Dan Bahan
1. Alat :
a. Kertas saring
b. Gelas plastik
c. Lakban 
d. Kapas 
e. Ovitrap 
f. Tabung erlenmeyer
g. Aspirator 
2. Bahan :
a. Air
b. Gula 
c. Pelet 

B. Cara Kerja
1. Mencari telur nyamuk
a. Melapisi gelas plastik dengan lakban 
b. Melapisi bagian dalam gelas plastik dengan kertas saring lalu diberi air 2/3 air
    sumur
c. Meletakan gelas plastik ditempat yang kira-kira terdapat nyamuk Aedes.
d. Mengamati setiap hari sampai terdapat bintik bintik hitam pada kertas saring.
e. Bintik bintik hitam adalah telur Aedes.
2. Menetaskan telur sampai menjadi pupa
a. Mengisi nampan dengan air sumur 1-2 cm
b. Meletakkan kertas saring yang terdapat telur kedalam nampan
c. Meletakkan nampan ditempat yang tidak terkena sinar matahari langsung
d. Setelah telur menetas menjadi larva
e. Memberi makan larva sampai berubah menjadi pupa.
f. Setelah beberapa hari larva akan berubah menjadi pupa.
g. Memindahkan pupa kedalam wadah yang baru.
h. Memasukkan kedalam sangkar nyamuk
i. Menyediakan makanan (gula pasir yang diencerkan) didalam sangkar nyamuk
   yang diletakan dalam erlenmeyer yang diberi kapas.
j. Pupa akan menjadi nyamuk





BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
1. Telur 
Terdapat bintik-bintik hitam pada kertas saring
 

2. Larva

3. Pupa
4. Nyamuk  didalam  ovitrap

Tabel Pengamatan
No
Hari Ke-
Pengamatan
Keterangan
Fase Telur
1.
1 ( satu )
-
Pembuatan dan pemasangan
 ovitrap
2.
2 (dua) – 3 (tiga)
Belum terdapat telur nyamuk 
dalam ovitrap
-
3.
4 (empat)
Terdapat telur nyamuk 
dalam ovitrap
Kertas saring dipindah ke 
wadah/nampan berisi air
Fase Larva / Jentik nyamuk
4.
6 (enam)
Telur berubah menjadi
 larva
-
Fase Pupa
5.
15 (lima belas)
Larva/jentik  berubah menjadi
 pupa
Pupa dipindahkan ke dalam wadah 
baru dandimasukan ke dalam
 sangkar nyamuk
Fase Nyamuk
6.
17 (tujuh belas)
Pupa berubah menjadi
 nyamuk
-


B. Pembahasan 
     Pada praktikum kolonisasi nyamuk ini, terdapat 5 ovitrap yang dipasang satu diantaranya trdapat telur nyamuk. Telur di dalam ovitrap tersebut didapat setelah hari ke-4 pemasangan ovitrap. Keudian telur menetas menjadi larva dalam waktu kurang lebih 2 hari yaitu pada hari ke-6. Sembilan hari kemudian larva/jentik berubah menjadi pupa (hari ke-15). Pupa dipindahkan ke wadah baru dan dimasukkan ke dalam sangkar nyamuk. Di dalam sangkar nyamuk fase pupa berlangsung kurang lebih dua hari dan menjadi nyamuk pada hari ke-17. Perkembangan nyamuk pada praktikum kolonisasi ini tidak berlangsung optimal. Perkembangbiakan nyamuk yang optimal hanya membutuhkan waktu 9 hari dari fase telur sampai menjadi nyamuk, sedangkan pada praktikum ini kolonisasi nyamuk membutuhkan waktu 17 hari. Hal ini dipengaruhi oleh kondisi lingkungan tempat nyamuk berkembangbiak seperti intensitas cahaya matahari, suhu dan kelembaban.

BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
     Siklus hidup atau metamorphosa nyamuk berlangsung selama 13 hari. Dengan fase telur selama 2 hari. Fazse larva/jentik berlangsung selama 9 hari , fase pupa berlangsung selama 2 hari hingga pada akhirnya menjadi nyamuk. Sehingga jumlah hari yang dibutuhkan dalam kolonisasi nyamuk yaitu 17 hari. Dengan 4 hari untuk membuat dan memasang ovitrap serte menunggu ovitrap terisi telur nyamuk  dan 13 hari sebagai metamorphosa nyamuk.

B. Saran 
  1. Pengisian air pada ovitrap sebaiknya tidak terlalu banyak maupun terlalu sedikit. 
  2. Pada pemasangan ovitrap sebaiknya ovitrap diletakkan pada tempat yang berpotensi menjadi sarang nyamuk
  3. Pemindahan telur, larva maupun pupa dari satu wadah ke wadah lain dilakukan secara hati-hati